Journey to continue one man’s dream

Dua setengah tahun lalu, Sukyatno Nugroho, ayah saya tercinta meninggal dunia. Beliau pergi dengan meninggalkan naskah untuk buku keduanya yang belum selesai dan sebuah pesan:

Apabila pada saatnya nanti saya meninggalkan dunia saya ingin memberikan warisan bagi bangsa dan negara ini. Bentuknya berupa sebuah buku, yang berisi seluruh pengalaman saya selama 25 tahun* membangun Es Teler 77. Agar ilmu langka dan satu-satunya di Indonesia ini tidak hilang begitu saja

Dengan setengah ragu, saya putuskan untuk meneruskan penulisan buku ini. Di satu sisi, saya bertekad untuk meneruskan cita-cita beliau. Tetapi di sisi lain, bagi seseorang yang bukan penulis dan tidak hobi menulis, membayangkan harus menulis sebuah buku – sangat mengintimidasi. Ditambah masa sekolah saya habiskan di Australia, kemampuan saya menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sangat minim. Tetapi apa boleh buat, cita-cita beliau harus diteruskan.

Permulaan dari penulisan buku ini cukup lambat dan tersendat-sendat, sempat pula saya mengalami cold feet. Tetapi semakin saya mendalami dan menelusuri perjalanan hidup beliau, saya semakin mendapat inspirasi. Perjalanan hidup beliaulah, yang lebih tepat disebut ‘petualangan’, karena memang penuh dengan liku-liku dan jatuh bangun berkali-kali sampai akhirnya meraih sukses, yang menginspirasikan saya untuk menyelesaikan penulisan buku ini.  

Saya harap buku ini juga dapat memberikan inspirasi, seperti apa yang dicita-citakan beliau.

Felicia Nugroho

_________________________________________________________________________________________

(English)

Sukyatno Nugroho, my dearest father, passed away two and a half years ago. He died leaving an unfinished manuscript for his second book and a message “When I die, I’d like to leave a legacy for the people of this country. It will be a book of my 25 years experience building Es Teler 77, so that this rare knowledge and one of a kind in Indonesia does not die with time”.

Reluctantly, I decided to continue writing his book. On one hand, I was determined to continue his dream, but on the other hand, for someone who’s not a writer and don’t really fancy writing, the idea of writing a book is so intimidating. In addition, the fact that I grew up and spent half of my life in Australia didn’t help with writing in Bahasa Indonesia. But what to do? I had to continue his dream.

It was a slow-going at the start and I got cold feet where it was just so difficult to get ideas. But the more I understood about his roots, his childhood and his way of again-and-again faced hardship, conquered and came as a winner, the more he inspired me. His life kept me going and motivated me to face the challenge and to finally finish the book.

It is my hope that his life also inspires others, as he wished.

Felicia Nugroho

About Prinsip Di Sini Senang, Di Sana Senang
Biografi Sukyatno Nugroho (pendiri Es Teler 77). Cerita petualangan seorang lelaki putus sekolah, yang sempat mengalami jatuh-bangun berkali-kali, tetapi dengan keuletan dan kegigihannya berhasil menaklukkan segala keterbatasannya sampai akhirnya berhasil membangun bisnis waralaba makanan cepat-saji pertama di Indonesia.

5 Responses to Journey to continue one man’s dream

  1. Leny Helena says:

    Sebuah Biografi yang sangat inspiratif, tenatang pengusaha yang sangat gigih hingga akhir hayatnya. Felicia menulis dan menceritakan bagaimana perjuangan sang papi yang dicintainya dalam mengerjakan kegiatan bisnis, dn juga kesehariannya sebagai ayah, sahabat, suami, pribadi unik yang jarang kita temui.

    Sebagai saksi langsung, Felicia dengan lancar dan tak perlu sok pintar menggunakan kata-kata sulit agar terlihat intelek, cerita ini mengalir dan membuat saya ingin membacanya terus hingga akhir. Salut karena, dengan cara penceritaannya yang mulus itu, jejak kaki saya ketika membaca sebagai awam dunia ekonomi dan bisnis tak perlu tersandung istilah-istilah rumit dan hanya akan membuat saya bosan atau bengong karena tidak mengerti.

    Tak bisa dipungkiri, sebagai seorang Cina peranakan, saya sangat “connected” dengan sejarah, perjuangan yang dialami Sukyatno yang diceritakan dalam buku ini. Stereotip Orang Cina selalu sukses seakan selalu melekat pada diri orang Tionghoa. Skeptisme juga selalu menyertai tanpa bisa kami tanggalkan. Namun yang jarang diceritakan dan mungkin tak pernah diungkapkan adalah perjalanan panjang menuju sukses itu sendiri. Begitu panjang, tak mulus dan merontokkan semangat.

    Kenangan, legacy dari almarhum Sukyatno inilah yang diceritakan oleh Felicia. tak hanya inspirasi, buku ini juga bisa menjadi ide, dan suntikan semangat bagi para pengusaha yang mungkin sering menemui jalan buntu dalam memperjuangkan usaha dan cita-citanya.

    Jangan pernah menyerah, adil dermawan dalam hati dan pikiran, niscaya Tuhan memberi jalan, kiranya itu Sukyatno amalkan dan ingin sampaikan melalui tulisan tangan putrinya Felicia

    regards

    Leny Helena

  2. Pingback: DI SINI SENANG, DI SANA SENANG : KISAH BISNIS ES TELER 77 « coretan catatan riri satria

  3. RIRI SATRIA says:

    Membaca buku yang ringan namun berbobot ini, buat saya sebagai konsultan dan dosen manajemen, sama dengan membaca sebuah buku manajemen stratejik yang memiliki studi kasus nyata. Bukunya ringan, namun berbobot, dan kita dapat menarik pelajaran yang tidak sederhana dari sosok yang sangat sederhana ini …

    Saya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap buku ini …

    http://ririsatria40.wordpress.com/2010/10/04/di-sini-senang-di-sana-senang-kisah-bisnis-es-teler-77/

  4. Uways says:

    belum baca.. tapi layak untuk dibaca…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: